The Crew

Hikmah Sentiment

Kamis, 25 Juni 2009

Oleh; Pedro Dacozta

Berbahagialah mereka yang mampu mengebiri ke-egoisannya pada urutan yang kesekian setelah rasionalitas dalam merampungkan ide untuk sebuah keputusan yang akan diambilnya. Kita sebagai manusia memiliki satu kesamaan yang niscaya ada dalam diri kita yaitu ke-egoisan. Yang selalu mencengkram kehidupan kita di setiap detik dari waktu yang terus menerus mengalir. Terkadang tanpa mengenal batas-batas kewajaran, ke-egoisan tersebut termanifestasi. Membuat individu lain di sekeliling kita menjadi bingung untuk memahami kita. Ya, individu-individu di sekeliling kita—yang karena keegoisan tersebut—selalu dipandang sebagai musuh yang membahayakan eksistensi kita, terus berusaha untuk memberikan kita ruang gerak yang luas untuk berekspresi. Bukan karena kita dinilai lebih rendah tapi karena rasa keinginan yang besar untuk saling memahami di atas landasan cinta dan kebersamaan.

Himpunan Mahasiswa (HIMA) GULAMASTA adalah organisasi yang dibangun di atas sentimen primordialisme. Sentiment yang oleh beberapa “pakar” ditafsirkan sebagai suatu sentiment yang cukup rapuh dan rentan perpecahan. Tidak saja karena primordialisme tersebut sangat particular, tetapi juga karena tidak pernah ada parameter baku untuk mengukurnya. Dalam hal ini HIMA GULAMASTA merupakan sebuah kesatuan yang utuh dan terdiri dari beberapa wilayah kecamatan. Namun lebih jauh kita bisa melihat bahwa di atas sentiment Gulamasta tersebut juga terdapat sentiment Kecamatan dalam wilayah Gulamasta. Sebutlah misalnya sentiman Mawasangka ataupun sentiment Lakudo.

Sentiment kecamatan inilah yang menguasai kita hari ini. Namun harus diakui pula bahwa diluar sentiment kecamatan itu ternyata muncul pula sentiment pribadi. Menurut beberapa orang, sentiment terakhir inilah yang menjadi biang kerok stagnasi HIMA GULAMASTA. Sungguh di luar dugaan, problem pribadi yang semestinya dikubur dalam-dalam bila dihadapkan pada kepentingan organisasi, justru menjadi patron untuk merealisasikan tanggung jawab keorganisasian. Sangat ironis karena beberapa kebenaran telah menjadi kebohongan. Sebaliknya, kebohongan telah menjadi kebenaran karena sentiment pribadi ini. Akhirnya, kehidupan kebersamaan yang secara kasatmata cukup romantic, ternyata terbangun di atas fondasi asumsi dan kecurigaan.

Sesungguhnya jika pendewasaan terus menerus menjadi komitmen, tidaklah salah jika kecurigaan-kecurigaan tersebut ada. Artinya bahwa dalam kehidupan ini sangatlah wajar jika kita harus mencurigai orang lain. Namun bukankah semestinya kita harus mampu membuktikan apakah kecurigaan kita tersebut benar? Inilah yang menurutku sebuah pendewasaan, mengakui kesalahan dan kejumudan kita.

Benarlah adigium yang mengatakan bahwa segala kenyataan pasti ada hikmahnya. Kondisi Hima Gulamasta yang “mati suri” karena menjadi bulan-bulanan kritikan oleh penggagasnya sendiri adalah refleksi ketidakpuasan yang tidak dibarengi kesadaran akan proses dialektik. Kita lupa bahwa kemanusiaan kita mengajarkan bahwa “kecintaan terhadap sesuatu tidak semestinya melahirkan kebencian terhadap sesuatu yang lain”.

Kita tidak akan mampu menjadi orang Gulamasta sebelum lulus menjadi orang di kecamatan kita masing-masing. Saya (misalnya sebagai orang Talaga) tidak bisa menjadi orang Gulamasta sebelum lulus menjadi orang Talaga itu sendiri. (#)

0 komentar:

Poskan Komentar

Foto MUBES II

Foto MUBES III

Pengikut