The Crew

Bom tak Terdengar Lagi, Kini Ekosistem Laut Hidup

Rabu, 29 Juli 2009

Coremap II Buton Berbasis Masyarakat


MAWASANGKA-Desa Bungi Lasori, Kecamatan Mawasangka Timur, mayoritas penduduknya bermatapencaharian petani agar-agar (baca: rumput laut). Sebelum program Coral Reef Management Program (Coremap II) Buton masuk, perkembangan usaha petani agar-agar sangat lambat dan tak menjanjikan.

Kades Bungi, La Samuni, mengaku aktivitas usaha agar-agar kini bergeliat. Warganya memanfaatkan semua program Coremap II Buton yang menurutnya sangat dekat dengan kepentingan hidup masyarakat. Satu per satu dia menyebut item program Coremap II Buton, diantaranya Alternative Income Generation (AIG) yakni dana bagi pengusaha desa yang berperan sebagai pengumpul hasil olahan rumput laut, dana seedfun berupa dana bergulir yang dikelola Lembaga Keuangan Mikro (LKM), blockgrant yang realisasi pembangunannya untuk merenovasi fasilitas kebutuhan mendasar warga pesisir, dan pondok informasi yang disebutnya sebagai tempat pertemuan warga dan sebagai pusat informasi/koordinasi Motivator Desa (MD), Lembaga Pemberdayaan Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) dan masyarakat desa dengan Coremap II Buton.

“Syukur Alhamdulillah, dengan adanya Coremap II Buton, masyarakat begitu partisipatif. Dan juga programnya Alhamdulillah sampai hari ini seperti AIG, Seedfun, blockgrant sangat membantu usaha dan kepentingan masyarakat kami,” ujar La Samuni sambil tersenyum lirih ketika ditemui di kediamannya, Jumat (24/7). Dengan adanya pengumpul tingkat desa, petani agar-agar tak perlu repot lagi menjual rumput lautnya di kota.

Sebelum program-program Coremap II Buton berbasis masyarakat itu masuk ke Desa Bungi Lasori, segala aktivitas masyarakat serba terbatas. Akses vital menuju sumur umum koemawa di ujung Desa Bungi agak jauh dan berbatu. Kini telah bersemen mulus sepanjang 100 meter lengkap dengan lantai tempat mencuci, masyarakat pun rajin memanfaatkan sumur tersebut karena tidak memikul jeriken lagi. Semua jenis kendaraan termasuk gerobak pun bisa masuk hingga ke sumur untuk mengangkut air. Panen petani agar-agar sebelumnya juga sangat rendah dari segi penghasilan. Tiga bulan terakhir ini, penghasilan agar-agar khusus Desa Bungi meningkat. “Karena saya juga sebagai AIG yang mengumpul hasil agar-agar itu, April lalu yang saya kumpul sebanyak 4, 177 ton. Bulan Juli ini saya mengumpul 5 ton lebih. Tapi pengumpul bukan hanya saya tapi banyak,” tambah La Samuni lagi.

MD Saharudin yang didampingi MD perempuan Wa Maiya, menjelaskan program Coremap II Buton besar manfaatnya bagi warga Bungi. Misalnya Daerah Perlindungan Laut (DPL) di Teluk Lasori yang dibentuk tahun 2007 berukuran 100x150 m sebagai tempat berkembang-biaknya ikan dan biota laut lainnya (baca: terumbu karang). Sebelum ada DPL, lanjut Saharudin, masyarakat penangkap dan pencari ikan kerap menggunakan penangkap ikan yang tidak ramah lingkungan (baca: bom dan bius) bahkan bunyi ledakan bom bisa mencapai hingga enam kali sehari. Jika memancing dengan alat seadanya, jumlah tangkapan sangat sedikit.

Kini laut Bungi yang berada di teluk itu tak lagi tercemar dan tak ada lagi bunyi ledakan bom. “Masih ada juga kadang-kadang sekali. Tapi kalau di DPL, sekarang terumbu karangnya sudah tumbuh,” ujarnya dalam kondisi basah usai mengurus rumput lautnya. Menurut Saharudin, hasil tangkapan ikan masyarakat sangat banyak setelah DPL dibentuk. Berbagai jenis ikan yang ukurannya bervariasi sangat mudah terpancing, ikan karang ukuran 6 kg yang selama ini tidak pernah ada, kini ada dan banyak.

Bendahara LKM Desa Bungi, Safarudin, menjelaskan program simpan-pinjam mengalami peningkatan. Kini banyak petani rumput laut, sebab ada kemudahan bagi masyarakat untuk memperoleh modal usaha dengan meminjam di LKM. Pinjaman tertinggi kepada petani agar-agar Rp 2,5 juta. Masyarakat yang ingin memperoleh dana segar, akan disurvei oleh LKM, LPSTK, dan MD. Jika usahanya diakui layak, maka dana akan dikucurkan tanpa agunan dengan bunga yang sangat ringan 1,2 persen untuk operasional. Keinginan masyarakat untuk meminjam modal usaha sangat banyak, terbukti kini anggota LKM mencapai 30 dari yang sebelumnya hanya 20 orang. Dana bergulir tersebut tak putus-putusnya dipinjam warga secara bergantian sampai-sampai uang kas kosong. Namun warga mengembalikan uang jasa/modal dan bunga sangat disiplin, sehingga setiap bulan uang kas akan terisi lagi. Uang kas yang dari Bank Dunia difasilitasi Coremap II Buton itu, kini berjumlah Rp 60 juta lebih dari Rp 50 juta yang dikelola sejak Februari 2009.

Beberapa petani agar-agar, merasakan manfaat bantuan bagi mereka dalam membudidayakan agar-agar. Lamboeya (80) mengaku terbantu, akses menuju sumur kini mudah. Selain itu dia juga mendapat bantuan bambu, tali, pisau, dan uang untuk beli bibit. “Sedikit lagi kita sudah mau dapat uangnya untuk beli bibit,” kata anggota kelompok 2 pimpinan Nuzullah ini. Hal senada juga diungkapkan kelompok usaha bersama. Kelompok yang dipimpin Sanusi itu memperlihatkan pondok tempat pengeringan agar-agar yang difasilitasi Coremap II Buton.

Kades Bungi mengaku kini tidak ada kendala bagi petani agar-agar di desanya selain penyakit ice-ice. Dia berharap pada Coremap II Buton ke depan agar melibatkan Desa Wantopi karena satu laut dan hanya 1,5 km jaraknya dengan Desa Bungi. Lantas dia menghimbau kepada masyarakatnya untuk menjaga laut dengan sebaik-baiknya.

Ketua PPK Coremap II Buton, Abdul Rahim, menjelaskan tahun ini ada penguatan untuk menjembatani suntikan program di tingkat desa. Termasuk village blockgrant, total yang telah disalurkan senilai Rp 43 miliar ke semua desa binaan. Sedangkan keberadaan DPL di desa binaan Coremap II Buton merupakan suatu keharusan untuk menjaga 10 persen karang dan ekosistem laut. Sebab jika DPL tidak ada, Coremap II Buton tidak punya akses untuk menjaga terumbu karang sebagai tempata berkembang-biaknya ikan.(yhd)

0 komentar:

Poskan Komentar

Foto MUBES II

Foto MUBES III

Pengikut